BELAJAR DARI KETELADANAN ABU BAKAR ASH-SHIDIQ

Dr. N. Faqih Syarif H,M.Si sedang melakukan Training Sukses UN di Sekolah

BANGGAJATIM | SIDOARJO – Keimanan yang tinggi dari sahabat Abu bakar Ra melahirkan semangat ibadah dan perjuangan luhur yang kemudian membekas dan menjadi nilai-nilai keteladanan tersendiri di kalangan umat Islam. Sejarah hidupnya telah melahirkan keteladanan yang patut ditiru dan diajarkan kepada generasi Islam selanjutnya.

Sobat. Beliau mendapat julukan Ash-Shidiq dari baginda Rasulullah Saw karena ia selalu membenarkan segala hal dari Rasulullah Saw dan selalu mendukung dakwah beliau. Sahabat Nabi yang terkenal dengan akhlaknya yang luhur. Karakter yang paling menonjol dalam dirinya adalah kukuh dalam pendidrian, pembawaannya tenang, setia kawan, jujur dan amanah.

Sobat. Kepercayaan yang dimiliki oleh Abu Bakar Ra terhadap risalah Islam perlu diajarkan kepada anak-anak kita. Keimanan adalah mempercayai segala hal yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Quran dan ajaran yang disampaikan Rasulullah SAW. Keimanan lebih utama ditanamkan dan didahulukan ketimbang mengedepankan logika yang bisa terkontaminasi oleh pikiran-pikiran sekuler.

Sobat. Mengenalkan dan menceritakan kisah-kisah Rasulullah Saw dan para sahabatnya yang luhur akan menjadikan anak semakin mengenal kehidupan, perjuangan, dan tujuan hidup beliau. Tentunya, anak yang mengenal Rasulullah Saw dengan baik akan mengidolakan dan menjadikan beliau sebagai pembangkit semangatnya. Ini sangat penting untuk memperkuat keimanan dan kecintaan anak kepada Rasulullah Saw.

Sobat. Keteladanan menonjol dari sikap Abu Bakar Ra kepada Rasulullah Saw ialah menjadi pembela beliau dalam segala kondisi dan posisi. Sudah terbukti dan tidak diragukan lagi pengorbanan beliau dalam membela Rasulullah Saw dan menguatkan dakwah beliau. Abu bakar Ra benar-benar menjadi pembela Rasulullah Saw dalam segala hal.

Sobat. Keteladan yang bisa kita ambil dari Abu bakar Ra adalah berani membantu Rasulullah dengan menyebarkan kebenaran Islam. Melalui dakwah beliau sehingga banyak tokoh-tokoh penting seperti Utsman bin Affan Ra yang juga masuk Islam. Kedermawanan beliau layak juga menjadi teladan bagi kita umat Islam. Seluruh jiwa dan harta Abu Bakar Ra disedekahkan di jalan Allah SWT. Dengan demikian, Allah pun menjamin balasan terbaik yang akan diterima di akherat.

Sobat. Selama menjadi khalifah, ia selalu memperhatikan rakyatnya. Hidupnya sangat sederhana dan tidak pernah menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi maupun keluarganya.

Dikisahkan, ketika Khalifah Abu Bakar merasa ajalnya hampir datang menjemput, beliau memanggil putri tercintanya, Siti Aisyah, untuk menyampaikan sebuah wasiat. “Wahai Aisyah putriku, aku telah diserahi urusan kaum Muslimin, aku telah memakan makanan yang sederhana dan aku juga telah memakai pakaian yang sederhana dan kasar.

Yang tersisa dari harta kaum Muslimin padaku adalah seekor unta, seorang pelayan (pembantu) rumah tangga, dan sehelai permadani yang sudah usang. Kalau aku wafat, kirimkan semuanya kepada Umar bin Khattab. Karena, aku tidak ingin menghadap Allah sedangkan di tanganku masih ada harta kaum Muslimin walaupun sedikit.”

Ada beberapa hal yang bisa ditarik dari wasiat itu.
Pertama, gambaran bahwa seorang pemimpin tidak boleh menggunakan fasilitas umat (negara) untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Hidup sederhana merupakan keharusan pemimpin. Hidup sederhana seperti ini sulit dilakukan bila keimanan tidak melekat pada diri sang pemimpin. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak dikatakan seorang itu beriman apabila tidak amanat dan tidak dikatakan beragama seseorang yang tidak berakal” (HR Dailami).

Kedua, Khalifah Abu Bakar merupakan salah seorang tipe pemimpin yang sangat bertanggung jawab. Sebagai bukti, meskipun ajal hampir datang menjemput, ia masih juga memikirkan harta umat, amanat kaum Muslimin. Padahal, apalah artinya seekor unta, seorang budak, dan sehelai permadani yang sudah usang dibandingkan dengan kekuasaan besar yang digenggamnya.

Namun, itulah bukti nyata bahwa Abu Bakar adalah pemimpin yang selalu mengutamakan amanat dan tanggung jawab tanpa melihat nilai yang terkandung pada barang-barang itu.

Sikap dan perilaku Abu Bakar yang demikian sebenarnya tidak mengherankan apabila mengingat hadis Rasulullah SAW yakni, “Barang siapa diserahi kekuasaan (tanggung jawab) urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang yang membutuhkannya, maka Allah tidak akan mengindahkannya pada Hari Kiamat” (HR Ahmad).

Hanya pemimpin yang beriman dan punya hati nuranilah yang mampu memahami pesan yang tersirat pada wasiat yang disampaikan oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq tersebut. Perangai pemimpin yang demikianlah harapan seluruh umat. Semoga lahir abu bakar-abu bakar modern yang memiliki sifat jujur dan amanah, sebagai pemimpin masa depan yang kita dambakan.

Sebagai penutup artikel, Keteladanan yang bisa diambil dari Sahabat Nabi yang mulia Abu Bakar Ra adalah : Kecintaan kepada Rasulullah Saw dan menjadi pembela Rasulullah Saw, Berani menyebarkan kebenaran Islam, kedermawanan, semangat beribadah dan beramal sholeh, kuat menjaga diri dari hal-hal yang subhat. Semoga kita bisa mengambil pelajaran yang berharga dari sahabat Nabi Abu Bakar Ra.

Salam Dahsyat dan Luar Biasa !

( Spiritual Motivator – Dr. N. Faqih Syarif H, M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual. Sekretaris Komnas Pendidikan Jawa Timur. Majelis Kyai PP Al-Ihsan Baron Nganjuk. Dewan Pembina PP Al- amri Leces Probolinggo Jawa Timur )