Pemerintah Luncurkan Kamus Bahasa Indonesia di Papua Nugini

0
16
Patugas berjaga di dekat perbatasan RI dengan Papua Nugini (PNG) di wilayah Skouw, Jayapura, Papua. Selain menjadi garis pembatas negara Indonesia dengan PNG, tempat tersebut sering dijadikan tempat wisata warga Indonesia yang berkunjung ke Jayapura.

Bangga Jatim, Sorong – Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Port Moresby, Papua Nugini, bersama dengan Duta Besar RI untuk Papua Nugini dan Kepulauan Solomon meluncurkan kamus bahasa Indonesia Tok Pisin untuk menjawab kebutuhan negara tetangga tersebut.

“Ini sudah lama ditunggu oleh para pembelajar di sekolah dan perguruan tinggi negara tersebut. Hal ini dikarenakan dalam proses belajar secara mandiri, seringkali mereka menghadapi kendala dalam memahami kata baru yang ditemuinya tanpa dukungan buku kamus,” ungkap Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud), Chaerun Anwar dalam siaran pers yang diterima dari BKS Humas,  Sekjen Kemdikbud Ristek, Ahad.

Dikatakannya, inisiasi peluncuran buku kamus bahasa Indonesia muncul dari kebutuhan perbelanjaan negara PNG agar menunjang sekolah dan universitas dalam proses belajar mereka secara mandiri.

“Saya berharap dengan tumbuhnya minat belajar Bahasa Indonesia yang tinggi akan semakin banyak alumni SMA dan perguruan tinggi di Papua Nugini melanjutkan studi di Indonesia untuk meraih gelar sarjana magister dan doktor,” ujarnya.

Lebih lanjut dalam pengantarnya, Duta Besar Papua Nugini, Andriana Supandy menggarisbawahi pernyataan Presiden RI Bapak Joko Widodo yang memandang bahwa Papua Nugini dan Kepulauan Solomon (Solomon Island, SI) adalah negara tetangga yang bersahabat dan mempunyai peran strategis bagi Indonesia.

“Indonesia baik dengan PNG maupun SI berbagi banyak kesamaan, khususnya dengan lima provinsi yang memiliki demografi penduduk berkarakter Melanesia sama seperti di PNG dan SI. Jumlah penduduk berkarakter Melanesia di lima provinsi tersebut mencapai 13.017.287 jiwa atau sekitar 40 persen dari total penduduk 20 negara wilayah Pasifik Selatan yang berjumlah 31 juta jiwa,” tutur Andriana Supandy.

Kesamaan suku bangsa dan akar bahasa ibu yang relatif mirip menurutnya merupakan salah satu aspek perekat antara Indonesia dengan kedua negara tersebut.

Tidak hanya dengan provinsi berkarakter Melanesia saja, Bahasa Tok-pisin sebagai bahasa Ibu di PNG dan SI juga merupakan salah satu bahasa resmi.

Karena memiliki kesamaan gramatikal bunyi dan tulisan dengan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, bahasa Indonesia akan mudah dipelajari oleh penutur Bahasa Tok-pisin.

Pada kesempatan tersebut, Atdikbud Chaerun Anwar menyampaikan bahwa pembelajar BIPA di Papua Nugini menurut data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) berjumlah 6.425 pembelajar. Capaian ini menduduki peringkat ke 4 sebagai negara dengan jumlah pembelajar BIPA terbanyak.

Terdapat beberapa tempat yang menyelenggarakan pengajaran bahasa Indonesia secara formal, seperti University of Papua New Guinea (UPNG), University of Goroka (UOG), Lae Secondary School, Inonda High School, Asia Pacific Institute of Applied Social Economic and Tech-nical Studies (APIASETS), Josephnesia 9 Mile Mc Gregor Barracks NCD, 5 Mile NCD, Saraga 6 Mile NCD, serta Goldie Central Province.(ant)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here